badai krisis eropa mulai lemahkan komoditi indonesia

Rabu, 14 Desember 2011

Badai Krisis Eropa Mulai Lemahkan Komoditi Indonesia

Selasa, 25 Oktober 2011 16:23 WIB
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tiupan badai krisis Eropa dan Amerika Serikat menembus perekonomian Indonesia. Bursa berjangka komoditi mulai menunjukkan melemahnya harga komoditi perdagangan Indonesia.
“Saya kira beberapa dan sudah ditunjukkan, indikasinya karet misalnya sudah mulai melemah. Kemudian juga sawit, beberapa sudah mulai menunjukkan,” demikian diutarakan Wakil Menteri Perdagangan Bayu Khrisnamukti, dalam jumpa pers, di Kantornya, Jakarta, Selasa (25/10/2011).
Karenanya, menurutnya, di tengah terpaan kondisi perekonomian dunia yang masih belum menentu, para pelaku pasar komoditi mengambil sikap menunggu tiap perkembangan yang terjadi di dunia.
“Bahwa pasar masih menunggu wait and see terutama untuk harga-harga futures, masih mereka melihat bagaimana perkembangan kondisi kedepan terutama terkait dengan situasi di Eropa,” mantan Wakil Menteri Pertanian ini mengatakan.
Terkait dengan komoditas yang perlu diwaspadai, Bayu menegaskan semua komoditi dagang Indonesia patut diwaspadai perkembangannya. “Saya kira semua andalan ekspor kita waspadai, sawit karet kopi kakao. Kemudian juga dari produk yang tadi seperrti furniture kemudian tekstil, elektronik itu kita cermati,” tegas Bayu.
Lebih lanjut, Bayu mengungkapkan bahwa dengan situasi seperti ini, pemerintah akan terus mencermati tiap perkembangan perekonomian yang terjadi di dunia. “Kita akan terus pantau hari per hari,” jelasnya.
Karet melemah? “Jangan begitu, kita mencermati semua harga komoditi, tidak hanya itu, yang saya sebut, apakah sudah melemah, belum. (Tadi ada indikasi karet dan sawit, melemah?) Futures iya,” demikian diuraikannya.

Penulis : Srihandriatmo Malau
Editor : Johnson Simanjuntak
Read Full 0 komentar

karet indonesia berpeluang pasok industri otomotif dunia

Karet Indonesia Berpeluang Pasok Industri Otomotif Dunia

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA - Pertumbuhan industri otomotif menyebabkan permintaan karet dunia meningkat. Lebih 80 persen karet dunia pemanfaatannya untuk industri otomotif, yaitu bahan baku pembuat ban. Hal ini tentu memberi peluang besar bagi Indonesia sebagai negara pemilik lahan karet terbesar dunia, yaitu 3,4 juta hektare (ha).
Ketua Dewan Karet Nasional, Azis Pane, menjelaskan total produksi kendaraan bermotor dunia pada 2011 mencapai 82,09 juta unit. Angka tersebut lebih tinggi dari dua tahun sebelumnya, yaitu 75,36 juta unit (2010), dan 62,27 juta unit (2009).
“Peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang didominasi jenis kendaraan roda empat itu menyebabkan produksi ban dunia juga meningkat,” ungkapnya dalam ''Lokakarya Karet Nasional'' di Hotel Kartika Chandra, Senin (26/9).
Pada 2011, produksi kendaraan bermotor mencapai 1,61 miliar unit. Angkanya lebih tinggi dari dua tahun sebelumnya, yaitu 1,50 miliar unit (2010) dan 1,32 miliar unit (2009).
Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krisnamurthi, mengatakan permintaan karet beberapa tahun mendatang akan terpusat di Asia. Angkanya mencapai 8–9 persen. Di Eropa dan Amerika, lanjutnya, hanya akan tumbuh dua persen. Sedangkan di tingkat global, pertumbuhannya akan stabil pada kisaran 5–6 persen.
Artinya, pasokan karet dunia ada di Asia. tingginya permintaan karet dari Asia akibat krisis ekonomi yang terjadi di Eropa dan Amerika. Negara-negara produsen industri otomotif akan mengalihkan pembangunan pabrik pengolahannya ke Asia. “Karena, memiliki akses yang lebih dekat ke negara-negara penghasil karet,” ungkapnya kepada Republika, Senin (26/9).
Indonesia berpeluang mengakses pasar tersebut, khususnya pemasok ban sepeda motor. Seperti diketahui, jenis kendaraan motor terbanyak di dalam negeri dan Asia Tenggara khususnya masih didominasi oleh sepeda motor.
Kondisi saat ini saja, tambah Azis, sudah menunjukkan ke arah itu. Saat ini, terdapat beberapa perluasan dan pendirian pabrik-pabrik ban baru di Indonesia. Di Cikarang, Korea (PT Hankook) berinvestasi 363 juta dolar Amerika untuk ban mobil truk dan bus.
Di Jawa Tengah, JK Tyres mengambil alih Mega Rubber yang rencananya untuk industri ban dengan investasi sebesar 250 juta dolar Amerika. Belum lagi, beberapa pabrik yang melakukan perluasan pabrik ban, seperti United Kingland IKD di Medan, Surya Raya Rubber, Gadjah Tunggal, Bridgestone, dan Elang Perdana.
Read Full 0 komentar

memperkuat pijakan industri karet india diluar negeri

Permintaan Karet Turun Drastis

  • Memperkuat pijakan Industri Karet India di Luar Negeri

    India n industri Karet merupakan salah satu industri dengan pertumbuhan tercepat yang memiliki satu juta kesempatan untuk mengeksplorasi. Hampir 6000 karet manufaktur unit ditetapkan di berbagai negara bangsa. Unit ini bersama-sama menghasilkan lebih dari 35.000 jenis barang karet. India produsen karet telah mengubah India menjadi eksportir terkemuka dan pemasok produk karet di seluruh dunia. Keseluruhan produk manufaktur oleh produsen India meliputi karet alam, merebut kembali karet, karbon hitam, karet sintetis, asam lemak, Bahan kimia karet, rayon, dll Produk lateks, ban mobil, tabung, belting, selang, suku cadang kendaraan bermotor, kabel dan kabel, dll adalah produk yang dibuat secara luas oleh distributor produk karet. India industri karet secara luas dibagi menjadi dua kategori, ban dan non-ban.
    Die membengkak selama ekstrusi R, r - Produk dimensi 1.  ketika melewati mati, 2.  setelah membengkak
    India adalah produsen karet terbesar ketiga dunia. Karet produk yang diproduksi oleh produsen India tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi proporsi curah dipasok dan diekspor ke negara-negara asing oleh eksportir India. Terutama, produk yang diekspor ke pasar luas negara-negara seperti Prancis, UEA, Italia, Jerman, Amerika Serikat dan Inggris. Arab Saudi, Afrika, Bangladesh dan Afghanistan adalah beberapa importir terkemuka karet yang membeli produk dari India. Ini adalah hal yang lazim namun produk karet konsumsi di negara-negara Barat telah mencapai titik jenuh. Oleh karena itu, pasar yang prospektif untuk ekspor India s secara bertahap bergeser dari negara-negara barat ke negara-negara Asia. Ini lagi menyediakan ruang besar untuk produsen karet produk India.
    Karena ini adalah industri booming, permintaan yang tidak pernah bisa menghadapi dekadensi karena melayani sektor yang luas, hampir setiap sektor, termasuk rekayasa, penerbangan, aeronautika, farmasi, pabrik baja, kereta api dan transportasi pertanian, pertambangan, tekstil, dll industri karet India merupakan sektor inti yang memainkan peran penting dalam perekonomian India dengan omset sebesar USD 8 miliar. Industri ini menyumbang USD 1,6 miliar kepada Menteri Keuangan Nasional melalui pajak, bea dan pungutan lain yang serupa. Industri ini memiliki beberapa keuntungan yang sangat berkontribusi terhadap intensifikasi nya, ini adalah;
    Your Ad Here
    Sektor perkebunan bahan baku dasar yang luas tersedia dalam kelimpahan Pernah meningkatkan pasar domestik Menjadi hub mobil besar, India menghasilkan permintaan besar untuk barang-barang karet, termasuk ban Ketersediaan Pelatihan tenaga kerja murah yang disediakan oleh lembaga teknis On-akan reformasi ekonomi Meningkatkan gaya hidup massa Dalam terakhir tahun, industri karet India telah mengalami pertumbuhan 8%, sehingga memberikan lebih banyak kesempatan untuk pemula untuk mendapatkan mata pencaharian mereka melalui industri dan peluang penguatan bagi mereka yang sudah ada di dalamnya. Yang kuat tenaga teknis terlatih india s telah menyebabkan India untuk menjadi pemain terpuji terkemuka di dunia. Juga, banyak lembaga pendidikan, pelatihan dan pengujian, dengan cara lain, membantu industri untuk berkembang lebih lanjut. Sementara India adalah konsumen terbesar keempat dari karet, negara ini juga merupakan tujuan yang lebih disukai untuk beberapa perusahaan karet terbesar sebagai konsekuensi dari investasi langsung atau teknis tie-up.
    Source: http://id.hicow.com/india/k
JAKARTA, (PRLM).- Krisis Eropa mulai berdampak terhadap produk pertanian Indonesia. Harga karet misalnya, turun akibat permintaan dari sejumlah negara Eropa maupun nengara lainnya turun. Demikian juga permintaan minyak sawit mentah (CPO-Crude Palm Oil), meski harganya belum ikut turun.
“Akibat permintaan tidak ada atau turun drastis, harga karet di pasar dunia saat ini turun menjadi kisaran 3,3 - 3,4 dolar AS per kilogram, dari sebelumnya rata-rata 3,5 dolar AS per kilogram. Akibatnya, banyak petani atau bandar karet yang menahan karetnya, mengharap harganya naik kembali, sehingga di tingkat petani menjadi Rp 20.000 per kilogram. Tetapi, harga tidak akan naik selama krisis Eropa berlangsung, meskipun mungkin harganya tidak akan anjlok hingga di bawah 3,0 dolar AS per kilogram,” kata Ketua Umum Dewan Karet Indonesia, A.Aziz Pane dalam perbincangan dengan “PRLM”, di Jakarta, Kamis (8/12).
Menurut Aziz, akibat permintaan karet yang turun drastis itu, pihaknya mengusulkan agar dilakukan moratorium (penghentian) ekspor karet, jika harganya berada di bawah 3,0 dolar AS per kilogram. “Tetapi, sampai sekarang tidak mungkin di bawah 3,0 dolar AS per kilogram. Kami tidak mau harga di bawah itu dan jika sudah mengarah di bawah 3,0 dolar AS per kilogram, ya menghentikan ekspor,” katanya.
Harga karet di tingkat petani sempat mencapai Rp 6.000 - Rp 8.000 per kilogram akibat krisis Eropa. Bahkan sempat Rp 5.000 per kilogram. Tetapi, saat ini berangsur naik lagi hinga mencapai harga Rp 10.000-Rp 11.000 per kilogram. “Ia di tingkat pengumpul, toke (pengumpul) membeli kisaran satu dolar delapan sen sampai dua dolar tigapuluh sent. Sedangkan biaya produksi rata-rata satu dolar lima sen,” katanya.
Turunnya harga karet tahun ini merupakan kedua kalinya. Pertama terjadi awal tahun, akibat tsunami melanda Jepang, dan mengakibatkan sejumlah pabrik ban tutup. “Tetapi, penurunan harga karet akibat tsunami Jepang itu, sebentar. Sekarang akan lebih lama,” ujarnya.
Ia berharap para petani siap menghadapi harga yang berfluktuasi dan waktunya lebih panjang lagi. “Turunnya harga karet sekarang ini baru akibat tidak langsung. Yang langsung, nanti ketika krisis Eropa semakin merambah ke negara-negara lainnya. Dampak langsung itu, tergantung bagaimana dampak krisis Eropa terhadap dunia, terutama Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya,” kata Aziz Pane.
Aziz Pane mengingatkan agar para petani karet, jangan selalu mengharapkan hidup enak terus, dengan harga yang tinggi. Tetapi, ada saatnya susah. “Karena itu, petani karet juga jangan lupa kewajibannya, membayar zakat penghasilannya (zakat perdagangan). Jangan cuma mencari keuntungan terus,” katanya.
Berdasarkan data, areal perkebunan karet Indonesia tahun 2010 seluas 3,445 juta hektar. Seluas 2,934 juta hektar adalah perkebunan rakyat dan sisanya 237.000 hektar dikelola perkebunan besar nasional, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Perkebunan. Tahun 2011 ini, diperkirakan terjadi penambahan areal sekitar 5.000 hektar.
Dari total areal itu, perkebunan rakyat mampu menghasilkan produk karet alam sebanyak 2,210 juta ton dan perusahaan perkebunan (BUMN) menghasilkan 252.000 ton. Dam perkebunan besar swasta diperkirakan mampu memproduksi 274.000 ton karet alam (2010) dan menjadi 276.000 ton (2011). (A-75/A-147)***
Read Full 0 komentar

THAILAN,RI & MALAYSIA siap bangun pasar fisik karet

Thailand, RI, & Malaysia, siap bangun pasar fisik karet

Large_karet

Berita Terkait

JAKARTA: Thailand, Indonesia dan Malaysia, yang menguasai pangsa pasar karet alami dunia hingga 70%, berencana untuk mendirikan sebuah pasar fisik regional guna menciptakan harga patokan baru atas komoditas itu.

Tjahjono Tjandra Budiarto, Ketua Komite Operasi Pasar Strategis pada International Rubber Consortium Ltd, mengatakan pasar itu akan membantu perdagangan produsen dengan harga yang lebih transparan dan dapat diandalkan. Perwakilan dari tiga negara bertemu di Bali hari ini membahas stabilisasi harga.

Harga karet telah merosot di bursa Tokyo tahun ini karena krisis utang Eropa menimbulkan kekhawatiran bahwa permintaan bisa turun. Tokyo Commodity Exchange (Tocom), bursa yang jadi patokan harga karet dunia, mengikuti perkembangan rencana tiga negara itu.

Tjandra mengatakan inisiatif tersebut akan melibatkan Bursa Komoditas & Derivatif Indonesia (BKDI), Bursa Berjangka Pertanian Thailand (AFET) dan Bursa Derivatif Malaysia (MDEX).

"Kami siap untuk memulai kontrak karet tahun depan," kata Megain Widjaja, CEO BKDI. Bulan lalu, katanya, ketiga bursa Asia Tenggara dan konsorsium bertemu di Phuket, Thailand, untuk membahas rencana tersebut.

Sementara itu, kinerja harga karet berjangka di Tokyo tahun ini menjadi yang terburuk sejak 2008, saat resesi ekonomi global mengurangi permintaan. Harga kontrak pengiriman Mei diperdagangkan pada 277,5 yen per kilogram di Tocom pukul 14.06 waktu Singapura.

Disambut baik
"Kami akan melihat lebih jauh perkembangan masalah ini," kata Fuminori Kondo, juru bicara Tocom. Menurutnya ide tersebut sudah didengar sebelumnya.

Fuminori mengatakan hal itu sangat menarik perhatian Tocom, sebagai bursa yang memperdagangkan karet, mengingat ketiga produsen menghasilkan 70% pasokan global.

Bursa Berjangka Pertanian Thailand menyambut baik rencana pasar karet itu yang menuntut studi lebih lanjut. "Inisiatif ini juga membutuhkan dukungan dari pemerintah untuk membantu menstabilkan harga," kata Kepala AFET Prasat Kesawapitak.

Dewan Karet Tripartit Internasional—yang mewakili petani dan eksportir dari Thailand, Indonesia dan Malaysia—bulan lalu mendorong anggotanya untuk membuat daftar hitam pembeli yang mangkir dari kontrak.

Dewan itu juga mengatakan dapat menahan ekspor jika diperlukan untuk membatasi pasokan dan meningkatkan harga.

"Ada keinginan dari pemerintah tiga negara untuk mendirikan sebuah pasar secepat mungkin yang akan didasarkan pada fundamen pasokan dan permintaan riil," kata Tjandra. Dia mengatakan kontrak itu paling mungkin diperdagangkan dalam denominasi dolar AS.

"Ini merupakan pasar yang dikenadlikan produsen dan itu akan membutuhkan dukungan penuh pemerintah dan komitmen dari para petani karet agar sukses," kata Megain.

CEO BKDI itu mengatakan pihaknya memiliki pasar fisik timah yang berasal dari inisiatif beberapa produsen sebagai proyek percontohan untuk pasar regional.

BKDI akan memulai perdagangan kontrak timah fisik berdenominasi dolar pada 15 Desember. Indonesia merupakan pengekspor terbesar dari logam yang digunakan untuk membuat solder.

"Setiap pasar baru akan menghadapi kesulitan dan tantangan untuk meyakinkan orang untuk perdagangan dan menggunakan harga sebagai referensi, tapi kita harus mengambil inisiatif," kata Tjandra.

Menurut Tjandra sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai. Di tengah ketidakpastian ekonomi, katanya, kita harus memiliki pasar yang kuat yang bebas dari spekulasi untuk mengurangi volatilitas harga. (Taufikul Basari/Bsi)
Read Full 0 komentar

Permintaan Karet Turun Drastis

JAKARTA, (PRLM).- Krisis Eropa mulai berdampak terhadap produk pertanian Indonesia. Harga karet misalnya, turun akibat permintaan dari sejumlah negara Eropa maupun nengara lainnya turun. Demikian juga permintaan minyak sawit mentah (CPO-Crude Palm Oil), meski harganya belum ikut turun.
“Akibat permintaan tidak ada atau turun drastis, harga karet di pasar dunia saat ini turun menjadi kisaran 3,3 - 3,4 dolar AS per kilogram, dari sebelumnya rata-rata 3,5 dolar AS per kilogram. Akibatnya, banyak petani atau bandar karet yang menahan karetnya, mengharap harganya naik kembali, sehingga di tingkat petani menjadi Rp 20.000 per kilogram. Tetapi, harga tidak akan naik selama krisis Eropa berlangsung, meskipun mungkin harganya tidak akan anjlok hingga di bawah 3,0 dolar AS per kilogram,” kata Ketua Umum Dewan Karet Indonesia, A.Aziz Pane dalam perbincangan dengan “PRLM”, di Jakarta, Kamis (8/12).
Menurut Aziz, akibat permintaan karet yang turun drastis itu, pihaknya mengusulkan agar dilakukan moratorium (penghentian) ekspor karet, jika harganya berada di bawah 3,0 dolar AS per kilogram. “Tetapi, sampai sekarang tidak mungkin di bawah 3,0 dolar AS per kilogram. Kami tidak mau harga di bawah itu dan jika sudah mengarah di bawah 3,0 dolar AS per kilogram, ya menghentikan ekspor,” katanya.
Harga karet di tingkat petani sempat mencapai Rp 6.000 - Rp 8.000 per kilogram akibat krisis Eropa. Bahkan sempat Rp 5.000 per kilogram. Tetapi, saat ini berangsur naik lagi hinga mencapai harga Rp 10.000-Rp 11.000 per kilogram. “Ia di tingkat pengumpul, toke (pengumpul) membeli kisaran satu dolar delapan sen sampai dua dolar tigapuluh sent. Sedangkan biaya produksi rata-rata satu dolar lima sen,” katanya.
Turunnya harga karet tahun ini merupakan kedua kalinya. Pertama terjadi awal tahun, akibat tsunami melanda Jepang, dan mengakibatkan sejumlah pabrik ban tutup. “Tetapi, penurunan harga karet akibat tsunami Jepang itu, sebentar. Sekarang akan lebih lama,” ujarnya.
Ia berharap para petani siap menghadapi harga yang berfluktuasi dan waktunya lebih panjang lagi. “Turunnya harga karet sekarang ini baru akibat tidak langsung. Yang langsung, nanti ketika krisis Eropa semakin merambah ke negara-negara lainnya. Dampak langsung itu, tergantung bagaimana dampak krisis Eropa terhadap dunia, terutama Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya,” kata Aziz Pane.
Aziz Pane mengingatkan agar para petani karet, jangan selalu mengharapkan hidup enak terus, dengan harga yang tinggi. Tetapi, ada saatnya susah. “Karena itu, petani karet juga jangan lupa kewajibannya, membayar zakat penghasilannya (zakat perdagangan). Jangan cuma mencari keuntungan terus,” katanya.
Berdasarkan data, areal perkebunan karet Indonesia tahun 2010 seluas 3,445 juta hektar. Seluas 2,934 juta hektar adalah perkebunan rakyat dan sisanya 237.000 hektar dikelola perkebunan besar nasional, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Perkebunan. Tahun 2011 ini, diperkirakan terjadi penambahan areal sekitar 5.000 hektar.
Dari total areal itu, perkebunan rakyat mampu menghasilkan produk karet alam sebanyak 2,210 juta ton dan perusahaan perkebunan (BUMN) menghasilkan 252.000 ton. Dam perkebunan besar swasta diperkirakan mampu memproduksi 274.000 ton karet alam (2010) dan menjadi 276.000 ton (2011). (A-75/A-147)***
Read Full 0 komentar

ekses krisis eropa-as harga karet jatuh

Permintaan Karet Turun Drastis

JAKARTA, (PRLM).- Krisis Eropa mulai berdampak terhadap produk pertanian Indonesia. Harga karet misalnya, turun akibat permintaan dari sejumlah negara Eropa maupun nengara lainnya turun. Demikian juga permintaan minyak sawit mentah (CPO-Crude Palm Oil), meski harganya belum ikut turun.
“Akibat permintaan tidak ada atau turun drastis, harga karet di pasar dunia saat ini turun menjadi kisaran 3,3 - 3,4 dolar AS per kilogram, dari sebelumnya rata-rata 3,5 dolar AS per kilogram. Akibatnya, banyak petani atau bandar karet yang menahan karetnya, mengharap harganya naik kembali, sehingga di tingkat petani menjadi Rp 20.000 per kilogram. Tetapi, harga tidak akan naik selama krisis Eropa berlangsung, meskipun mungkin harganya tidak akan anjlok hingga di bawah 3,0 dolar AS per kilogram,” kata Ketua Umum Dewan Karet Indonesia, A.Aziz Pane dalam perbincangan dengan “PRLM”, di Jakarta, Kamis (8/12).
Menurut Aziz, akibat permintaan karet yang turun drastis itu, pihaknya mengusulkan agar dilakukan moratorium (penghentian) ekspor karet, jika harganya berada di bawah 3,0 dolar AS per kilogram. “Tetapi, sampai sekarang tidak mungkin di bawah 3,0 dolar AS per kilogram. Kami tidak mau harga di bawah itu dan jika sudah mengarah di bawah 3,0 dolar AS per kilogram, ya menghentikan ekspor,” katanya.
Harga karet di tingkat petani sempat mencapai Rp 6.000 - Rp 8.000 per kilogram akibat krisis Eropa. Bahkan sempat Rp 5.000 per kilogram. Tetapi, saat ini berangsur naik lagi hinga mencapai harga Rp 10.000-Rp 11.000 per kilogram. “Ia di tingkat pengumpul, toke (pengumpul) membeli kisaran satu dolar delapan sen sampai dua dolar tigapuluh sent. Sedangkan biaya produksi rata-rata satu dolar lima sen,” katanya.
Turunnya harga karet tahun ini merupakan kedua kalinya. Pertama terjadi awal tahun, akibat tsunami melanda Jepang, dan mengakibatkan sejumlah pabrik ban tutup. “Tetapi, penurunan harga karet akibat tsunami Jepang itu, sebentar. Sekarang akan lebih lama,” ujarnya.
Ia berharap para petani siap menghadapi harga yang berfluktuasi dan waktunya lebih panjang lagi. “Turunnya harga karet sekarang ini baru akibat tidak langsung. Yang langsung, nanti ketika krisis Eropa semakin merambah ke negara-negara lainnya. Dampak langsung itu, tergantung bagaimana dampak krisis Eropa terhadap dunia, terutama Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya,” kata Aziz Pane.
Aziz Pane mengingatkan agar para petani karet, jangan selalu mengharapkan hidup enak terus, dengan harga yang tinggi. Tetapi, ada saatnya susah. “Karena itu, petani karet juga jangan lupa kewajibannya, membayar zakat penghasilannya (zakat perdagangan). Jangan cuma mencari keuntungan terus,” katanya.
Berdasarkan data, areal perkebunan karet Indonesia tahun 2010 seluas 3,445 juta hektar. Seluas 2,934 juta hektar adalah perkebunan rakyat dan sisanya 237.000 hektar dikelola perkebunan besar nasional, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Perkebunan. Tahun 2011 ini, diperkirakan terjadi penambahan areal sekitar 5.000 hektar.
Dari total areal itu, perkebunan rakyat mampu menghasilkan produk karet alam sebanyak 2,210 juta ton dan perusahaan perkebunan (BUMN) menghasilkan 252.000 ton. Dam perkebunan besar swasta diperkirakan mampu memproduksi 274.000 ton karet alam (2010) dan menjadi 276.000 ton (2011). (A-75/A-147)***
Read Full 0 komentar

KARET SEBAGAI KOMODITAS PERKEBUNAN UNGGULAN

karetKARET Sebagai Komoditas Perkebunan Unggulan : KARET merupakan tanaman tahunan yang tumbuh subur di daerah tropis dengan curah hujan yang cukup. Menurut asal-usulnya, tanaman KARET berasal dari Brasil dan kemudian berkembang di seluruh dunia. Namun saat ini penghasil utama KARET berada di negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand, Indonesia dan Malaysia.
Sejak pembangunan perkebunan di Indonesia dikembangkan oleh pemerintah kolonial Belanda, KARET telah dijadikan sebagai komoditas unggulan bersama tebu, kopi, teh, tembakau, kina, kapas dan rempah-rempahan. Demikian halnya setelah perkebunan-perkebunan Belanda dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia, KARET tetap menjadi salah satu komoditas primadona perkebunan.
Ketika Indonesia dipimpin oleh Jenderal Besar Presiden Soeharto, komoditas KARET semakin dipacu perkembangannya. KARET dibudidayakan oleh perkebunan rakyat (PR), perkebunan besar negara (PBN) dan perkebunan besar swasta (PBS). Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian, pada awal pemerintahan Soeharto di tahun 1967, luas perkebunan KARET di Indonesia baru 2.131.704 hektar dengan total produksi 709.251 ton. Kemudian pada akhir pemerintahan Presiden Soeharto di tahun 1997, luas perkebunan KARET Indonesia menjadi 3.474.402 hektar atau meningkat sekitar 63% dengan total produksi sebesar 1.552.585 ton atau meningkat sekitar 120%.
Tahun 1998, areal perkebunan KARET mencapai puncak dengan luas 3.607.295 hektar. Demikian pula produksinya yang mencapai 1.661.898 ton.
Namun, mulai tahun 1999 luas areal perkebunan KARET mengalami penyusutan hingga 3.262.267 hektar di tahun 2004 meskipun total produksinya masih cenderung terus meningkat. Baru pada tahun 2005 luas areal tersebut menunjukkan pertumbuhan kembali.
Sekarang, menurut Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Indonesia memiliki lahan perkebunan KARET paling luas di dunia. Sayangnya, dari segi produksi hanya mampu menempati urutan kedua setelah Thailand. Namun demikian, Indonesia memiliki hamparan perkebunan KARET seluas 3,47 juta hektar lebih, dimana 85% diantaranya merupakan perkebunan rakyat. Melalui upaya penerapan teknologi maju dan bibit jenis unggul diharapkan perkebunan KARET Indonesia mampu meningkatkan produksi per satuan hektar.
Indonesia menargetkan bisa menjadi negara penghasil KARET terbesar di dunia pada tahun 2015. Upaya itu dilakukan dengan merevitalisasi perkebunan KARET seluas 300.000 hektar hingga 2010, sekaligus mengganti tanaman KARET yang rusak dan tua yang mencapai 400.000 hektar. Selain itu, pemerintah juga mengundang investor untuk mengembangkan perkebunan KARET, sekaligus membangun usaha hilir dan pemilik modal itu akan diberi kemudahan dalam bidang perijinan dan insentif pajak.
Menurut Menteri Pertanian pula, budidaya perkebunan KARET memiliki peranan yang sangat penting dalam perekonomian nasional, antara lain sebagai sumber pendapatan bagi lebih dari 10 juta petani dan menyerap sekitar 1,7 juta tenaga kerja lainnya. Selain itu, KARET juga merupakan salah satu komoditas nonmigas yang secara konsisten nilai ekspornya terus meningkat. Sebanyak 15 provinsi di Indonesia tercatat sebagai sentra produksi KARET nasional, antara lain Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.
Dari segi pasar, produksi KARET Indonesia terutama ditujukan untuk meningkatkan ekspor serta memenuhi kebutuhan dalam negeri. Tingginya kebutuhan akan komoditas KARET menunjukkan bahwa permintaan bahan baku KARET baik di pasar lokal maupun internasional memiliki prospek yang sangat baik untuk terus dikembangkan.
KARET merupakan komoditas ekspor yang mampu memberikan kontribusi terhadap upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor KARET Indonesia dari tahun ke tahun terus menunjukkan peningkatan. Menurut International Rubber Study Group (IRSG), konsumsi KARET alam dunia selalu mengalami kenaikan setiap tahun. Pada tahun 2004 konsumsi KARET alam dunia mencapai 8,23 juta ton sedangkan produksi dunia sekitar 8,475 juta ton per tahun. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2000, dimana konsumsi dunia sebanyak 7,31 juta ton dengan produksi sebanyak 6,74 juta ton. Antara konsumsi dan produksi KARET dunia semakin menunjukkan adanya defisit produksi, sehingga menjadi potensi bagi Indonesia untuk pengembangan budidaya KARET di masa yang akan datang.
Sebagai salah satu negara penghasil KARET terbesar, Indonesia memiliki peran yang besar dalam percaturan KARET dunia. Bahkan Indonesia merupakan anggota konsorsium KARET internasional IRCO yang turut berperan sebagai pengendali harga KARET alam dunia. Selain Indonesia, anggota IRCO lainnya adalah Malaysia dan Thailand yang juga merupakan produsen utama KARET alam. Selanjutnya IRCO juga berusaha menggaet Vietnam untuk memperkuat peranan IRCO dalam mengendalikan harga KARET dunia.


Related Blogs

Read Full 0 komentar
 

© Technorati Style Copyright by pertanian | Template by One-4-All | Made In Indonesia