Rabu, 14 Desember 2011

Siap Mengantarkan Karet ke Pasar Global

Meski Indonesia kaya akan pohon karet, nilai olahan produk karet negeri ini masih sangat rendah. Teknologi nano bisa jadi cara meningkatkan nilai karet lokal di tingkat dunia.
Vini Mariyane Rosya
MIRIS rasanya melihat produksi karet di Indonesia masih saja berkutat pada karet remah {crumb rubber). Padahal, luas kebun karet Indonesia Iebih dari cukup untuk membuat karet menjadi industri unggulan, baik dari hulu maupun hilir.
Di Palembang, Rahmaniar resah. Perempuan peneliti berusia 43 tahun tersebut mengaku khawatir dengan kondisi petani karet di Palembang yang semakin miskin. Padahal, lahan perkebunan karet di Palembang ialah yang terbesar di Indonesia. Jika dikelola dengan baik, karet bisa menjadi penopang ekonomi tak hanya di Sumatra Selatan, tetapi juga ekonomi nasional.
"Saya ingin ada peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama petard karet. Di samping itu, saya juga yakin industri karet dapat meningkatkan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional," tuturnya kepada Media Indonesia, kemarin.
Karena itulah, Niar, panggilan akrabnya, mulai mengutak-atik karet agar nilai ekonomisnya meningkat. Kegunaan karet beragam dan dapat diaplikasikan untuk banyak hal. Misalnya untuk perlengkapan kendaraan, seperti ban, engine mouting dan pirodo. Karet juga bisa digunakan untuk peralatan kesehatan, misalnya slang ste-toskop dan karet pipet, peralatan olahraga mulai bola sampai pakaian selam, kebutuhan industri antara lain oil seal dan conveyor, serta barang kebutuhan sehari-hari semisal karpet karet dan sandal.
Namun, Niar memfokuskan diri pada penelitian karet, terutama untuk aplikasi dunia otomotif. Karya Niar dipamerkan pada RD Ritech Expo 2010,pameran yang menggelar berbagai hasil riset teknologi, di Jakarta Convention Center OCC), Jakarta, 20-22 Agustus 2010.
Ibu tiga anak tersebut memanfaatkan teknologi nano untuk mempercepat proses pemasakan (vulkanisasi) karet menjadi pirodo (cakram ban mobil). Sebelum karet yang telah diproses secara kimiawi tersebut dicetak, Niar mencampurkan sulfur yang telah diproses menjadi nanoparrikel untuk proses vulkanisasi.
"Dengan suhu vulkanisasi 140 derajat celsius, menggunakan nanosulfur akan mempercepat waktu pemasakan, yaitu 12 menit 19 detik. Bandingkan dengan menggunakan sulfur yang ada di pasaran (tanpaukuran nano), waktu pema-sakannya sampai 13 menit 40 detik," ucapnya.
Selain lebih cepat, imbuhnya, karet olahan dengan menggunakan sulfur yang dinanokan juga menghasilkan uji fisika yang Iebih baik. "Begitu juga untuk parameter uji fisika, sulfur yang berukuran nano lebih baik dibandingkan dengan sulfur yang ada di pasaran," timpalnya.
Berhenti impor
Peneliti muda bidang teknik industri pada Balai Riset dan Standardisasi Industri Kementerian Perindustrian itu mengaku meski penelitiannya masih jauh dari aplikasi dalam industri, ia bermimpi hasil temuannya tersebut dapat membuat Indonesia, terutama Palembang, tak lagi mengimpor produk olahan karet dari luar.
"Kan lucu, kita punya area perkebunan karet yang luas, banyak hasilkan karet alam mentah, lalu kita jual ke luar negeri, nanti karet mentah itu kita beli lagi dalam bentuk produk jadi. Yang ada, di sini dibanjiri produk-produk karetdari China, Jepang," ucapnya kelu.
Sebagai area perkebunan karet terbesar di Indonesia, Sumatra Selatan diakuinya masih sangat rendah dalam menghasilkan produk olahan dari karet alam. Sebabnya, menurut Niar, sangatlah klise, teknologi yang rendah dan infrastruktur yang tak memadai.
"Makanya saya bermimpi penelitian-penelitian saya ke depan nanti dapat diaplikasikan di dunia industri. Saya berharap ke depan kita menyiapkan dan mempunyai fasilitas serta infrastruktur industri berbasis teknologi skala nano yang memadai, tentunya di Sumatra Selatan," timpalnya.
Pengembangan dari penerapan teknologi nano yang sedang dikerjakannya diharapkan Niar akan mendorong Palembang tak lagi hanya memproduksi karet alam mentah. Apalagi, nilai ekspor karet alam mentah sangatlah kecil. "Ada dua jenis karet yang biasa digunakan dalam industri, yaitu karet alam dan karet sintesis. Karet dalam keadaan mentah tidak dapat dibentuk menjadi barang jadi olahan karet yang layak
Idigunakan. Karet mentah tidak elastis dan mempunyai banyak kelemahan, antara lain tidak kuat dan tidak tahan cuaca," jelasnya.
Dokter nano
Perjalanan Niar sebagai peneliti teknologinano tidaklah mulus. Setelah cita-citanya menjadi dokter kandas, perjalanan hidup justru membawanya menjadi dokter nano.
Setelah lulus kuliah, Niar diterima sebagai calon pegawai negeri sipil di Baristand (Balai Riset dan Standardisasi) Industri Palembang. Di sinilah ia meniti karier sebagai dokter nano.
"Sejak kecil saya memang tertarik dengan ilmu sains dan saya mempunyai cita-cita ingin sekali jadi dokter. Sam- pai tiga kali saya ikut tes, tapi masih belum berhasil. Kalau di ilmu kedokteran meneliti, mengamati tentang penyakit, nah ternyata sekarang saya seorang peneliti yang mengamati partikel-partikel yang berukuran nano. Menurut saya, kedua hal tersebut tak jauh berbeda," ungkapnya.
Selain itu, tugas pokok sertalingkungan kerjanya ternyata sangat mendukung dirinya menjadi peneliti. Dia menyebut peneliti yang juga atasannya, Hari Adi Prasetya, sebagai salah satu guru penuh inspiFasi. "Beliau sering memberi motivasi kepada saya, ke depannya peneliti itu harus bagaimana, ruang lingkup kerjanya, tanggung jawab dan prospek seorang peneliti. Saya menjadi yakin dengan jalan sebagai peneliti atas dukungan dari dia," sahutnya.
Niar menegaskan pengembangan nanoteknologi dalam industri Indonesia, terutama karet, sangatlah krusial. Dengan nanoteknologi, produk-produk olahan karet Indonesia diyakininya mampu bersaing dengan produk luar negeri. "Menurut saya, teknologi nano mempunyai banyak keuntungan, di antaranya efisien, efektif, dan memberikan banyak ruang untuk berinovasi. Apalagi untuk menghadapi persaingan pasar bebas, dengan adanya teknologi nano, dunia industri akan semakin kompetitif," tandasnya. (M-4)vini@mediaindonesia.com
Read Full 0 komentar
Kondisi Geografis Daerah Kaiamantan Barat

1.1. Letak Wilayah

Propinsi Kalimantan Barat terletak di bagian barat pulau Kalimantan atau di antara garis 2o08 LU serta 3005 LS serta di antara 108o0 BT dan 114o10 BT pada peta bumi. Berdasarkan letak geografis yang spesifik ini maka, daerah Kalimantan Barat tepat dilalui oleh garis Khatulistiwa (garis lintang 0o) tepatnya di atas Kota Pontianak. Karena pengaruh letak ini pula, maka Kalbar adalah salah satu daerah tropik dengan suhu udara cukup tinggi serta diiringi kelembaban yang tinggi.


Ciri-ciri spesifik lainnya adalah bahwa wilayah Kalimantan Barat termasuk salah satu propinsi di Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara asing, yaitu dengan Negara Bagian Serawak, Malaysia Timur. Bahkan dengan posisi ini, maka daerah Kalimantan Barat kini merupakan satu-satunya propinsi di Indonesia yang secara resmi telah mempunyai akses jalan darat untuk masuk dan keluar dari negara asing. Hal ini dapat terjadi karena antara Kalbar dan Sarawak telah terbuka jalan darat antar negara Pontianak - Entikong - Kuching (Sarawak, Malaysia) sepanjang sekitar 400 km dan dapat ditempuh sekitar enam sampai delapan jam perjalanan.


Batas-batas wilayah selengkapnya bagi daerah propinsi Kalbar adalah :


*
Utara : Sarawak (Malaysia)
*
Selatan : Laut Jawa & Kalteng
*
Timur : Kalimantan Timur
*
Barat : Laut Natuna dan Selat Karimata


Sebelah utara Kalbar terdapat empat kabupaten yang langsung berhadapan dengan negara jiran yaitu; Sambas, Sanggau, Sintang dan Kapuas Hulu, yang membujur sepanjang Pegunungan Kalingkang - Kapuas Hulu.


1.2. Luas Wilayah


Sebagian besar wilayah Kalimantan Barat adalah merupakan daratan berdataran rendah dengan luas sekitar 146.807 km2 atau 7,53 persen dari luas Indonesia atau 1,13 kali luas pulau Jawa. Wilayah ini membentang lurus dari Utara ke Selatan sepanjang lebih dari 600 km dan sekitar 850 km dari Barat ke Timur.


Dilihat dari besarnya wilayah, maka Kalimantan Barat termasuk Provinsi terbesar keempat setelah pertama Irian Jaya (421.891 km2), kedua Kalimantan Timur (202.440 km2) dan ketiga Kalimantan Tengah (152.600 km2).


Dilihat dari luas menurut Kabupaten/kota, maka yang terbesar adalah Kabupaten Ketapang (35.809 km2 ata 24,39 persen) kemudian diikuti Kapuas Hulu (29.842 km2 atau 20.33 peresen), dan Kabupaten Sintang (21.635 km atau 14,74 persen), sedangkan sisanya tersebar pada 9 (sembilan) kabupaten/kota lainnya.


1.3. Topografi


Secara umum, daratan Kalimantan Barat merupakan dataran rendah dan mempunyai ratusan sungai yang aman bila dilayari, sedikit berbukit yang menghampar dari Barat ke Timur sepanjang Lembah Kapuas serta Laut Natuna/Selat Karimata. Sebagian daerah daratan ini berawa-rawa bercampur gambut dan hutan mangrove.


Wilayah daratan ini diapit oleh dua jajaran pegunungan yaitu, Pegunungan Kalingkang/Kapuas Hulu di bagian Utara dan Pegunungan Schwaner di Selatan sepanjang perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah.


Dilihat dari tekstur tanahnya maka, sebagian besar daerah Kalimantan Barat terdiri dari jenis tanah PMK (podsolet merah kuning), yang meliputi areal sekitar 10,5 juta hektar atau 17,28 persen dari luas daerah yang 14,7 juta hektar. Berikutnya, tanah OGH (orgosol, gley dan humus) dan tanah Aluvial sekitar 2,0 juta hektar atau 10,29 persen yang terhampar di seluruh Dati II, namun sebagian besar terdapat di kabupaten daerah pantai.




1.4. Sungai dan Danau


Daerah Kalimantan Barat termasuk salah satu daerah yang dapat dijuluki Provinsi Seribu Sungai. Julukan ini selaras dengan kondisi geografis yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang diantaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagian besar kecamatan.


Sungai besar utama adalah S. Kapuas, yang juga merupakan sungai terpanjang di Indonesia (1.086 km), yang mana sepanjang 942 km dapat dilayari. Sungai-sungai besar lainnya adalah: S. Melawi, (dapat dilayari 471 km), S. Pawan (197 km), S. Kendawangan ( 128 km), S. Jelai (135 km), S. Sekadau (117 km), S. Sambas (233 km), S. Landak (178 km).


Jika sungai-sungai sangat menonjol jumlahnya di Kalimantan Barat, maka sebaliknya yang terjadi dengan danau. Dari danau-danau yang ada hanya dua yang cukup berarti. Kedua danau ini adalah Danau Sentarum dan Danau Luar I yang berada di Kabupaten Kapuas Hulu.


Danau Sentarum mempunyai luas 117.500 hektar yang kadang-kadang nyaris kering di musim kemarau, serta Danau Luar I yang mempunyai luas sekitar 5.400 hektar. Kedua danau ini mempunyai potensi yang baik sebagai objek wisata.


1.5. Gunung-gunung


Dipengaruhi oleh dataran rendah yang amat luas, maka ketinggian gunung-gunung relatif rendah serta non aktif. Gunung yang paling tinggi adalah gunung Baturaya di Kec. Serawai, Kab. Sintang yang mempunyai ketinggian 2.278 meter dari permukaan laut, jauh lebih rendah dibanding G. Semeru (Jatim,3.676 meter) atau G. Kerinci (Jambi, 3.805 meter).


Gunung Lawit yang berlokasi di Kapuas Hulu, Kec. Embaloh Hulu dan lebih dahulu dikenal di Kalimantan Barat, ternyata hanya menempati tertinggi ketiga karena mempunyai tinggi 1.767 meter, sedangkan tertinggi kedua adalah Gunung Batusambung (Kec. Ambalau) dengan ketinggian mencapai 1.770 meter .


1.6. Pulau-pulau


Walaupun sebagian kecil wilayah Kalbar merupakan perairan laut, akan tetapi Kalbar memiliki puluhan pulau besar dan kecil (sebagian tidak berpenghuni) yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Propinsi Riau, Sumatera.


Pulau-pulau besarnya seperti Pulau Karimatan dan Pulau Maya, Pulau Penebangan, Pulau Bawal dan Pulau Gelam di perairan Selat Karimata, Kab. Ketapang. Pulau besar lainnya antara lain adalah Pulau Laut, Pulau Betangin Tengah, Pulau Butung, Pulau Nyamuk dan Pulau Karunia di Kab. Pontianak.


Sebagian kepulauan ini, terutama di wilayah Kab. Ketapang merupakan Taman Nasional serta wilayah perlindungan atau konservasi.


1.7. Penggunaan Tanah


Sebagian besar luas tanah di Kalimantan Barat adalah hutan (42,32%) dan padang/semak belukar/alang-alang (34,11%). Adapun areal hutan terluas terletak di Kabupaten Kapuas Hulu seluas 1.964.491 ha, sedangkan padang/semak belukar terluas berada di Kabupaten Ketapang yaitu seluas 1.374.145 ha. Sementara itu areal perkebunan mencapai 1.574.855,50 atau 10,73 %.


Dari 14,68 ribu ha luas Kalimantan Barat, areal untuk pemukiman hanya berkisar 0,83 persen. Adapun areal pemukiman terluas berada di Kabupaten Sintang diikuti kemudian oleh Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Ketapang.


Walaupun sebagian kecil wilayah Kalimantan Barat merupakan perairan laut, akan tetapi Kalbar memiliki puluhan pulau besar dan kecil (sebagian tidak berpenghuni) yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Propinsi Riau, Sumatera.Secara administratif, Provinsi Kalimantan Barat terbagi menjadi 10 kabupaten dan 2 kota dengan Pontianak sebagai ibukota provinsi.


Dari sisi komoditi, sektor pertanian khususnya bagi daerah Kalimantan Barat, sampai saat ini ternyata masih merupakan tulang punggung perekonomian daerah, baik sebagai penghasil nilai tambah dan devisa maupun sumber penghasilan atau penyedia lapangan kerja sebagian besar penduduknya. Kelapa sawit, karet, tebu, kakao dan perikanan tangkap yang merupakan komoditi unggulan nasional, juga dihasilkan dalam jumlah yang sangat besar oleh Propinsi ini. Sedangkan untuk komoditi unggulan daerah komoditi andalannya adalah jagung, kelapa, lada dan sapi.


Sektor pariwisata di daerah Kalimantan Barat tergolong potensial untuk dikembangkan lebih maju lagi. Propinsi ini memiliki potensi wisata yang beragam, yakni berupa wisata alam, agrowisata, dan wisata budaya. Wisata alam antara lain berupa pemandangan alam pegunungan, pantai laut, danau, hutan tropis dengan aneka ragam flora dan fauna, air terjun yang indah di Pande Kembayung dan Riam Kanebak, dan sebagainya. Begitu juga dengan wisata budaya, dengan latar belakang sejarah dan aneka ragam seni dan budaya yang unik dan menarik di Kalbar, daerah ini sangat potensial untuk menarik wisatawan mancanegara maupun domestik.


Sebagai tujuan investasi, provinsi ini juga memiliki berbagai sarana dan prasarana penunjang diantaranya Bandara Supadio di Pontianak, Bandara Rahardi Oesman di Ketapang, Bandara Susilo di Sintang dan Bandara Sanggoledo di Singkawang serta memiliki Pelabuhan Ketapang, Pelabuhan Telok Melano, Pelabuhan Pontianak, Pelabuhan Singkawang, Pelabuhan Telok Air dan Pelabuhan Merbau Paloh serta didukung sarana listrik dan telekomunikasi.

2. Wilayah Kerja Revitalisasi - Koperasi Karet Sulung - Sintang
Foto0126Foto0122Foto0123Foto0125Foto0124

Dalam peranan Investor, telah ditetapkan besaran investmen yaitu 25.000Ha untuk tiap investor, dengan pola kemitraan dan pola pengembangan PIR, dimana Inti (Avalis) mendapat 50%, Plasma (Masyarakat) 40% dan Koperasi Karet Sulung sebagai Mediator 10%.

0 komentar:

Poskan Komentar


 
Read Full 0 komentar

Colletotrichum gleosporioides (Penz) Penyebap penyakit gugur daun pada tanaman Karet

Salahuddin Adi Kelana, Fakultas Pertanian Universitas Mataram.
Latar Belakang
Jamur Colletotrichum gleosporioides merupakan salah satu jamur yang menyebapkan penyakit pada beberapa tanaman inang, baik pada fase pembibitan, budidaya dan pada fase pasca panen. Salah satunya penyakit yang disebapkan oleh jamur ini yaitu penyakit gugur daun pada tanaman karet, dan sering dikenal sebagai penyakit gugur Colletotrichum dimana penyakit gugur daun pada tanaman karet merupakan penyakit yang menyebapkan kerugian besar pada perkebunan karet bahkan penyakit ini menyerang secara berkelanjutan dan disebapkan oleh jamur Colletotrichum gleosporioides (Penz).
Biologi Jamur
Adapun klasifikasi jamur Colletotrichum gleosporioides (Penz) menurut Dwidjoseputra pada tahun (1978), adalah sebagai berikut:
Divisi : Mycota
Kelas : Deuteromyces
Ordo : Melanconiales
Famili : Melanconiaceae
Genus : Colletotrichum
Spesies : Colletotrichum gleosporioides
C. gleosporioides umumnya memiliki konidium hialin yang berbentuk silinder dengan ujung-ujung yang tumpul, kadang-kadang berbentuk agak jorong dengan ujung yang agak membulat, dan pangkal yang ajak terpancung, tidak bersekat, berinti satu, panjang sel antara 9-24 X 3-6 μm, terbentuk pada konidiofor seperti fiadid berbentuk silinder, hialin berwarna agak kecoklatan. Serta memiliki konidiofor yang pendek dan beregresi (berkumpul) pada permukaan yang tipis dari perenkhimoid dan stroma, (Semangun, 2000). C. gloeoeosporioides termasuk parasit fakultatif, dimana jamur ini memproduksi hialin, dan menyebapkan penyakit pada beberapa tanaman dengan cara melemahkan inang dengan menyerap makanan secara terus menerus dari sel tanaman inang, guna kebutuhannya, enzim atau zat pengatur tumbuh yang disekresikan oleh jamur C. Gloeoeosporioides, menghambat terjadinya transportasi makanan, hara mineral, dan air yang melalui jaringan pengangkut pada tanaman inang setelah terjadinya kontak (Agrios, 1996).
Dalam kombinasi inang jamur dapan memproduksi toksin spesifik, yaitu toksin yang bertanggung jawab terhadap gejala yang terjadi, dan beberapa ahli menduga bahwa terjadi reaksi terhadap reseptor spesifik atau sisi sensitif dalam sel inang. Dimana hanya tanaman yang memiliki reseptor sensitif atau sisi sensitif semacam ini yang mudah diserang oleh jamur dan menjadi sakit, Spesies atau Varietas tanaman yang tidak memiliki reseptor sensitif semacam ini akan tetap tahan terhadap serangan jamur C. gloeoeosporioides (Abadi, 2003).
Ekologi
Dalam cuaca yang lembap dengan massa spora yang lunak menyebapkan spora mudah tersebar hinggga jarak yang sangat jauh dengan bantuan angin dan aliran air, diketahui pada daerah perkebunan karet di dataran tinggi atau daerah perkebunan yang memiliki tingkat curah hujan yang tinggi dan memiliki tingkat kelembapan yang tinggi merupakan kondisi lingkunyan yang sangat disukai oleh jamur C. gloeoeosporioides sehingga serangan yang ditimbulkan oleh jamur ini meningkat tajam, selain itu jarak tanam yang terlalu rapat, daerah perkebunan yang terletak di lembah, di rawa-rawa atau daerah yang populasi gulmanya tidak dikendalikan termasuk lingkungan yang disenangi oleh jamur C. gloeoeosporioides (Basuki, 1990).
Colletotrichum merupakan jamur yang bersifat kosmopolitan, sehingga jamur ini dapat menyebapkan penyakit pada beberapa jenis tanaman termasuk tanaman karet serta menyebapkan penyakit pasca panen dan pada benih, Colletotrichum dapan berspora pada suhu 10-40 0C. Selain itu sinar Ultra violet berpengaruh dalam mengaktifkan spora, perkembangan spora juga dapat terjadi pada kelembapan relatif ddegan kisaran 90% dan suhu berkisar antara 15-35 0C, walaupun kelembapan relatif jamur ini berkisar 90%. Spora Colletotrichum juga dapat bertahan pada kisaran suhu diatas 35 oC, kondisi ini yang mendukung perkembangan penyakit pada tanaman karet di Sri Langka, yang terjadi di luar musim hujan (Google. 2010).
Pada umumnya C. gloeoeosporioides merupan jamur yang umum dan terdapat diberbagai macam tanaman sehingga sumber infeksi jamur ini dapat terjadi dengan mudah, jamur disebarkan oleh spora (konidium), dan mudah tersebar oleh percikan air hujan dan oleh aliran udara yang lembap serta dapatdisebarkan oleh serangga vektor (Semangun, 2000).
Morfologi Jamur
Jamur C. gloeoeosporioides memiliki konidium yang membentuk buluh kecambah membentuk apresorium pada ujung. Penetrasi terjadi secara langsung dengan menembus kutikula, merusak dinding sel dan benang-benang jamur berkembang di dalam dan di anara sel-sel. Pada awalnya kloroplas rusak dan diikuti dengan rusaknya mitikondria, selama proses infeksi patogen melepaskan enzim poligalakturonase, selulase, dan toksin (semangun, 2000). Dimana spora jamur C. gloeoeosporioides hanya dapat berkecambah bila ada iar bebas, atau bila kelembapan nisbi udara kurang dari 96%, spora tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 25 0 – 28 0C.
Pengendalian
Dalam melakukan pengendalian jamur C. gloeoeosporioides sebagai penyebap penyakit dapat dillakukan dengan cara :
- memperbaiki saluran pembuangan air dan drainase, memberantas gulma secara intensuf, dan pemangkasan cabang dan ranting tanaman yang tidak berguna dan yang ducurigai atau telah terinfeksi penyakit, serta mengatur jarak tanam agar mengurang kelembapan pada daerah perkebunan.
- Menggunakan varietas yang tahan terhadap serangan jamur C. gloeoeosporioides
- Pemberian pupuk yang berimbang, sehinggga kebutuhan unsur hara tanaman dapat terpenuhi dan dapat menyehatkan tanaman sehingga daya tahan tanaman terhadap gangguan jamur C. gloeoeosporioides dapat meningkat.
- Menggunakan Bioagensia pengendali hayati yaitu bakteri antagonis dalam menelan populasi jamur C. gloeoeosporioides.
DAFTAR PUSTAKA
Abadi, A.L, 2003. Ilmu Penyakit Tumbuhan I, bayu media . Malang .
Agrios, G.N, 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan, diterjemahkan oleh Busnia M, UGM Press, Yogyakarta.
Basuki, 1990. Penyakit Gugur Daun Colletotrichum pada Tanaman Karet, Pusat Penelitian Perkebunan Tanjung Mirawa (P4TM).
Dwijoseputro. Prof.D.S, 1978. Pengantar Mikologi, Alumni. Bandung.
Semangun, H .2000. Penyakit-Penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia. UGM Prees, Yogyakarata.
WWW.google.com/search/Ekologi_jamur_Colletotrichum_gloeoeosporioides. Di download tanggal 5 Mei 2010.
Read Full 0 komentar

PEREMAJAAN DAN PERLUASAN PERKEBUNAN KARET dalam Tuntutan Peremajaan Perkebunan Karet Rakyat

Tuntutan Peremajaan Perkebunan Karet Rakyat : Salah satu langkah yang dapat mendorong peningkatan produksi karet Indonesia adalah peremajaan lahan karet yang telah memasuki tahapan tidak produktif (tanaman berusia di atas 20 tahun), di samping tetap melakukan perluasan lahan. Strategi peremajaan dinilai cukup baik bagi lahan perkebunan karet Indonesia yang saat ini (2008) telah mencapai luas sekitar 3,5 juta hektar. Apabila lahan tersebut dioptimalkan melalui peremajaan, diharapkan tingkat produksi akan meningkat sekitar 20 – 30%.
Menurut Sekjen ANRPC (Association of Natural Rubber Producing Countries), Djoko Said Damardjati, pemerintah perlu mengalokasikan dana peremajaan (replanting) perkebunan karet rakyat, sekaligus bisa menyalurkan subsidi yang tepat kepada para petani karet pada saat harga karet dunia anjlok akibat krisis ekonomi global. Selama ini, Indonesia dan dua produsen karet terbesar lainnya yakni Thailand dan Malaysia hanya menurunkan produksi dan pasokannya ke pasar dunia. Tidak ada langkah lain yang dilakukan negara-negara produsen karet selain menekan produksinya agar harga karet tidak semakin anjlok. Penurunan produksi dilakukan dengan meminta petani mengurangi kegiatan penyadapannya.
Padahal, pemerintah Indonesia bisa mengalokasikan dana untuk peremajaan (replanting) perkebunan karet rakyat. Sebab, Indonesia memiliki perkebunan karet terluas di antara sembilan negara anggota ANRPC, dan sekitar 80 persen dari total areal perkebunan karet adalah perkebunan karet rakyat.
Djoko Said Damardjati menambahkan, bahwa Indonesia sudah lama tidak melakukan peremajaan perkebunan karet rakyat. Dalam peremajaan tersebut, tidak semua pohon karet rakyat harus diremajakan. Jika petani memiliki dua hektar kebun karet, maka 50 persen atau 30 persennya saja yang diremajakan, yaitu kebun yang pertanaman karetnya sudah berusia di atas 25 atau 30 tahun.
Program peremajaan karet sangat dibutuhkan, karena saat ini para petani karet sedang mengalami kesulitan akibat anjloknya harga karet dunia sebagai dampak dari krisis ekonomi global. Harga karet sebelum September 2008 masih berada pada kisaran US$3,5 per kg, tetapi setelah Oktober 2008 hingga sekarang harga karet menurun drastis hingga US$1,4 per kg.
Jatuhnya harga karet karena terjadi penurunan produksi mobil baru di dunia. Penurunan produksi mobil mengakibatkan penurunan permintaan ban mobil. Penurunan permintaan ban mobil menyebabkan penurunan permintaan karet. Diketahui bahwa sekitar 80 persen produksi karet alam (natural rubber) diserap oleh tiga pabrik ban mobil dunia. Ketika produksi ban mobil menurun, maka permintaan karet alam ikut turun. Apalagi harga minyak bumi turun merosot, sehingga harga karet sintetis sebagai pesaing harga karet alam menjadi lebih murah.
Apabila program peremajaan karet ini berhasil, maka setelah lima hingga tujuh tahun kemudian, produksi karet Indonesia diperkirakan akan mengalami peningkatan yang signifikan. Pemerintah akan memperoleh devisa lebih besar dari nilai ekspor karet yang tinggi. Di lain pihak, petani juga akan menikmati keuntungan yang besar ketika harga karet kembali naik, sebab petani dapat menyadap karet yang lebih baik dan lebih banyak dari pohon karet baru.
Menurut Djoko Said Damardjati, ada tiga hal penting bagi pemerintah dalam rangka peremajaan perkebunan karet rakyat ini, yaitu:
Pemerintah harus membeli kayu pohon karet yang ditebang. Di Malaysia, kayu pohon karet tersebut bisa dijadikan bahan plywood sehingga menambah pemasukan petani karet itu sendiri.
Pemerintah juga wajib memberikan bibit pohon karet bersubsidi, pupuk bersubsidi dan bibit tanaman sela bersubsidi kepada petani.
Program peremajaan perkebunan karet ini merupakan program keberpihakan pemerintah kepada petani, karen petani akan menerima uang dari hasil penjualan kayu pohon karet hasil tebangan, serta mendapat bantuan bibit pohon karet, pupuk, dan tanaman sela
Read Full 0 komentar
SEJAK menekuni usaha pembibitan, Sarnyoto (59) tidak lagi terpikat menekuni profesi lain. Bahkan, ia merasa terlahir ke dunia untuk terus memproduksi benih/bibit dari segala jenis pohon dan jenis hortikultura.
Siang itu, Sarnyoto dan 12 karyawan tetapnya terlihat sibuk di penyemaian/pembenihan yang berada di Pekon Banyumas. Maklum, mereka mendapat pesanan 800 ribu bibit yang harus selesai pada awal 2012. Bibit sebanyak itu di antaranya akan dibeli Kabupaten Way Kanan sebanyak 250 ribu bibit albasia, Lampung Selatan 60 ribu kayu-kayuan, dan sisanya pemesanan individu.
Sarnyoto mengaku menjual bibit dengan harga Rp500/batang untuk jenis albasiah, bibit jabon dijual Rp1.000/batang, dan karet Rp6.000/batang.
Ke-12 karyawan tetap itu sudah bekerja selama 8 tahun dengan pembayaran Rp30 ribu/hari. "Alhamdulillah bisa membantu masyarakat sekitar dengan menjadikan karyawan tetap," kata dia.
Sarnyoto pun mengaku tidak pernah gonta-ganti karyawan, sebab kalau sering ganti justru tidak akan memahami hal teknis mengelola benih yang baik. "Jadi karyawan saya sudah ahli semua, dan tahu apa yang harus dilakukan."
Sarnyoto yang memulai berprofesi sebagai pembuat bibit sejak 1975 di Jawa Tengah. Kemudian hijrah ke Banyumas, Pringsewu, sejak 1995. Ia terlihat sibuk memperhatikan benih yang tersusun dan tertanam dalam polybag (wadah plastik).
Lokasi pembibitan yang mencapai 3,5 ha itu terbagi dalam tiga bagian: pertama, khusus untuk pembibitan yang masih sangat kecil untuk usia 1—15 hari, kemudian pembibitan yang berusia antara 1—6 bulan dan pembibitan yang khusus untuk persiapan entris (bibit karet).
Sarnyoto yang juga menjadi unsur ketua HKTI mengatakan untuk mendapatkan benih ternyata tidak asal-asalan. Contohnya saja khusus biji albasia, ia harus membelinya ke Jawa Tengah karena kualitas di Lampung masih kurang baik.
Menurut Sarnyoto, ratusan benih yang tersemai ini akan menjadi bibit aneka jenis kayu-kayuan: albasia, sumedang, cempaka, suren, jabon, jati, dan cendana. Sedangkan untuk jenis hortikultura: durian, kakao, klengkeng, mangga, dan karet.
Di lokasi pembibitannya saat ini ada 17 jenis bibit yang diusahakannya untuk memenuhi kebutuhan baik di Lampung ataupun di luar daerah. Bahkan bibit akasia minium juga tersedia 30 ribu batang. Dari usahanya ini, Sarnyoto bisa membiayai anak-anaknuya sekolah hingga sarjana.
Membuat bibit berkualitas tidaklah mudah dan diperlukan kesabaran. Untuk memproduksi bibit berkualitas: benih harus bersertifikat dari Balai Pembenihan Tanaman Hutan (BPTH) Palembang. Kedua, lahan atau media kultur harus disesuaikan dengan kebutuhan. Media pembenihan perbandingannya tanah 30% dan pupuk kandang 70%. Perpaduan antara tanah dan pupuk kandang menjadi pemula untuk pertumbuhan benih. Kemudian benih baru bisa di masukan dalam polybag jika tanah sudah disiapkan selama 15 hari.
Kemudian biji harus dibuat kecambah sebelum dimasukkan ke polybag, setelah dimasukkan baru diberi tutup plastik guna menjaga kelembapan.
Jika bibit sudah berusia 4,5—5 bulan, bibit sudah ideal untuk ditanam. Tetapi sebelum ditanam, bibit sebelumnya harus dilakukan penggeseran selama 15 hari agar akar yang sudah tumbuh ke tanah dan putus saat digeser bisa tumbuh kembali. Penggeseran benih bertujuan agar bibit tidak stres saat dipindah.
Dengan berprofesi sebagai pembuat bibit kayu-kayuan dan hortikultura, Sarnyoto mengaku sudah dua kali mewakili Lampung di tingkat internasional dalam acara Industri Hayati Petani Perdesaan Berbasis Spiritualistas 2010 di Jepang dan pada April 2011 lalu di Jakarta. Acara yang dihadiri perwakilan 47 negara itu menjadi pengalaman yang sangat berharga dalam hidupnya.

Persiapan Entris
Sarnyoto mengaku sudah menanam bibit karet khusus persiapan entris, yang berusia sekitar satu tahun. Bibit karet yang ditanam di lahan seluas 1 ha itu merupakan karet berkualitas yang bersertifikasi BP260 dan IRR39.
Kebutuhan bibit karet kian tahun semakin tinggi, bahkan berapa pun bibit yang diproduksi terus habis.
Oleh karena itu, Sarnyoto bertekad membuat entris sendiri. Ia juga berusaha mencoba membuat kultur jaringan, yaitu usaha perbanyakan bibit karet dengan tidak mengubah genetiknya.
Saat ini pola pembuatan kultur jaringan masih dalam tahap uji coba dengan mensterilkan bibit karet melalui penutupan batang bibit karet dengan plastik selama satu bulan.
Proses perbanyakan bibit lewat kultur jaringan sangat panjang. Tetapi jika berhasil, dalam satu pohon bisa dihasilkan ribuan bahkan jutaan sel baru yang merupakan embrio benih karet baru. (WIDODO/S-2)

Share this post

 
Latest Articles

Add comment




:D:lol::-);-)8):-|:-*:oops::sad::cry::o:-?:-x:eek::zzz:P:roll::sigh:
1000 symbols left


Security code
Refresh


Read Full 0 komentar

Malaysia berhasil Memecahkan Genom Karet

Suka dengan artikel ini?

Kamis, 14 April 2011 - Pusat Biologi Kimia Universiti Sains Malaysia bekerjasama dengan lebih dari 30 lembaga penelitian dari Asia Pasifik, Afrika Selatan dan Amerika Serikat berhasil memecahkan genom pohon karet yang diberitakan bulan Oktober 2009.


Karet merupakan tanaman keras paling penting kedua di Malaysia setelah sawit yang menyumbang industri multi miliar dollar. Wajar jika Malaysia sangat ambisius untuk melakukan pembarisan genom tanaman ini.
USM menjadi universitas pertama di dunia yang menghasilkan draft genom 2 miliar basa dari pohon karet Hevea brasiliensis. Pembarisan sebelumnya pada pohon sawit telah menghasilkan tanaman sawit dengan kemampuan produksi tiga kali lipat kelapa sawit biasa, entah potensi apa yang bisa diperoleh dengan genom pohon karet.
Ini merupakan hal yang patut ditiru oleh bangsa Indonesia. Ketimbang kita menebang hutan dan melepaskan CO2 dari lahan gambut, lebih baik kita berinvestasi pada bioteknologi. Dengan cara ini, dengan lahan yang ada kita tetap bisa menyelamatkan spesies yang semakin langka.
Read Full 0 komentar

Malaysia berhasil Memecahkan Genom Karet

Suka dengan artikel ini?

Kamis, 14 April 2011 - Pusat Biologi Kimia Universiti Sains Malaysia bekerjasama dengan lebih dari 30 lembaga penelitian dari Asia Pasifik, Afrika Selatan dan Amerika Serikat berhasil memecahkan genom pohon karet yang diberitakan bulan Oktober 2009.


Karet merupakan tanaman keras paling penting kedua di Malaysia setelah sawit yang menyumbang industri multi miliar dollar. Wajar jika Malaysia sangat ambisius untuk melakukan pembarisan genom tanaman ini.
USM menjadi universitas pertama di dunia yang menghasilkan draft genom 2 miliar basa dari pohon karet Hevea brasiliensis. Pembarisan sebelumnya pada pohon sawit telah menghasilkan tanaman sawit dengan kemampuan produksi tiga kali lipat kelapa sawit biasa, entah potensi apa yang bisa diperoleh dengan genom pohon karet.
Ini merupakan hal yang patut ditiru oleh bangsa Indonesia. Ketimbang kita menebang hutan dan melepaskan CO2 dari lahan gambut, lebih baik kita berinvestasi pada bioteknologi. Dengan cara ini, dengan lahan yang ada kita tetap bisa menyelamatkan spesies yang semakin langka.
Read Full 0 komentar
 

© Technorati Style Copyright by pertanian | Template by One-4-All | Made In Indonesia