Sabtu, 22 Oktober 2011

kebun impianku

Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) memperkirakan harga karet bakal menguat hingga akhir tahun karena dipicu naiknya volume dan permintaan. Selain itu, berdasarkan riset Institute Thailand, Thailand sebagai eksportir karet terbesar di dunia mengalami keterbatasan pasokan di tengah menguatnya permintaan produk dari lokal maupun global. Analisis dari DS Futures Co juga menyebutkan terbatasnya pasokan dari Thailand tersebut dapat memicu kenaikan harga.
Pengurangan pasokan komoditas tersebut disebabkan pada awal tahun depan Negeri Gajah Putih itu akan memasuki musim rendah produksi. Di sisi lain, permintaan karet diprediksi menguat. Salah satunya disebabkan adanya lonjakan penjualan mobil di China dan India. Sementara itu, dalam pandangan Direktur Eksekutif Gapkindo Suharto Honggokusumo, ada empat faktor pembentuk harga karet di pasar internasional, yakni kekuatan penawaran dan permintaan, fluktuasi harga minyak dunia, nilai tukar dollar AS terhadap mata uang di sejumlah kawasan, serta aksi spekulan.
“Harga karet mencapai rekor pada Februari 2011, yakni 5,8 dollar AS per kilogram. Hal itu menandakan adanya penguatan harga yang akan terjadi sepanjang tahun ini meski dalam beberapa bulan terakhir menurun tipis,” ujar Suharto.
Pada 2011, salah satu faktor yang memicu kenaikan harga karet adalah tingginya permintaan dari sejumlah negara, seperti Jepang. Saat ini, perekonomian Jepang yang sempat terpuruk akibat bencana gempa bumi dan tsunami pada Maret 2011 itu mulai pulih. Kondisi tersebut memicu peningkatan permintaan karet untuk produksi ban kendaraan.
Pihak Gapkindo memperkirakan produksi karet dunia pada tahun ini mencapai 10,93 juta ton, sementara tingkat konsumsi mencapai 11,16 juta ton. Hal itu berarti terjadi kekurangan pasokan produk sebesar 234 ribu ton. Adanya ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan komoditas karet disebabkan terjadinya perubahan iklim dan tingginya permintaan dari sejumlah negara. Selain Jepang, India dan China terus meningkatkan konsumsi karetnya. Sebagai gambaran, pada 2010, China menjadi konsumen karet terbesar dengan total permintaan mencapai 3,63 juta ton.
Menguatnya harga karet pada tahun ini didukung pula oleh laporan Federal Reserve mengenai adanya perbaikan perekonomian Amerika Serikat yang masih berlanjut. Hal itu meningkatkan optimisme investor akan kenaikan permintaan karet. Kecenderungan melambungnya harga karet dunia itu semestinya berimplikasi positif terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan petani karet Indonesia. Pasalnya, Indonesia merupakan negara penghasil karet nomor dua di dunia setelah Thailand.
Namun, ironisnya, selama ini keuntungan terbesar justru diperoleh para spekulan di Singapura atau negara-negara lainnya, sementara para petani karet di Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Riau dan daerah lain di Indonesia tidak mencicipi keuntungan yang sama. gus/E-2
referensi: http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/69105
15
Agu
11



Print this post

0 komentar:

Poskan Komentar

 

© Technorati Style Copyright by pertanian | Template by One-4-All | Made In Indonesia